ARPM (JAKARTA) - Pembangunan jalan yang bersumber dari APBN, tampaknya, nihil di Kabupaten Mandailing Natal pada tahun ini. Hingga akhir Maret 2016, belum satu rupiah pun dari Kementerian Pekerjaan Umum mengalir ke Madina, padahal proyek pembangunan jalan dan jembatan yang berasal dari sana berjumlah Rp79,3 triliun.
Kepala Bidang Ekbang Aliansi Rakyat Peduli Madina, Rachmat Lubis, melihat Dinas PU Mandailing Natal tidak seterampil sebelumnya. Pada Tahun 2015, Kementerian PU menggelontorkan Rp150 miliar untuk rekonstruksi jalan Natal – Tabuyung – Batumundom Rp57,9 miliar, Batu Mundom Rianiate Rp59,9 miliar, dan Jembatan Merah – Ranjau Batu Rp32,4 miliar.
Alokasi Kementerian PU pada tahun ini untuk jalan dan jembatan di Sumatera Utara Rp1,4 triliun. Beberapa project terbesar adalah jalan Pangururan – Tomok Rp371,4 miliar, jalan Sidikalang – Aceh Rp250,5 miliar, jalan Tebingtinggi – Parapat Rp231 miliar, jalan Tele – Onan Runggu Rp184 miliar, jalan Perbaungan – Tebingtinggi Rp66 miliar, preservasi jalan Kisaran – Aek Kanopan Rp63 miliar, Jalan Lingkar Rantau Parapat – Aek Nabara Rp51,9 miliar, dan rekonstruksi jalan ke Bandara Silangit Rp48 miliar.
Mandailing Natal tak kebagian APBN karena Pegawai PU tidak dibayar untuk perencanaan? Ternyata tidak juga. Dalam RUP 2015, Dinas PU Mandailing Natal menganggarkan Rp2,2 miliar untuk perencanaan jalan. Jumlahnya 30 persen dari keseluruhan biaya perencanaan Rp6,6 miliar.
Point perencanaannya juga lengkap. Mulai dari kegiatan Bina Marga Wilayah I sampai dengan V, proyek yang bersumber dari DAU, DAK, dan BDB, perencanaan untuk wilayah I sampai IV, dan pengambilan data dari wilayah Mandailing Godang, Mandailing Julu, dan Pantai Barat.
“Kita tahu kok Kepala Dinas PU dan bawahannya sering bolak-balik ke Jakarta membawa proposal,” kata Rachmat Lubis.
Hasil konfirmasi Aliansi Rakyat Peduli Madina ke beberapa pegawai yang menangani anggaran jalan di Kementerian PU, proposal yang diajukan tidak komprehensif. “Tidak menggambarkan hasil kerja dari konsultan,” kata Rachmat.
Syukurlah Pemerintah Provinsi menyisihkan Rp54 miliar ke Mandailing Natal. Jumlah rencana pembangunan jalan dan jembatan di Sumatera Utara pada Tahun 2016 mencapai Rp822 miliar.
Terkonsentrasi di Pantai Barat, proyek penbangunan jalan lewat Bina Marga Sumatera Utara pada tahun ini terdiri dari Jembatan Merah – Muarasoma Rp20,7 miliar, Muarasoma – Simpang Gambir Rp7,2 miliar, Jembatan Aek Pasar Karom Rp1,8 miliar, Jembatan Aek Milas Rp3,2 miliar, Simpang Pulo (Batahan) – Batas Sumatera Barat Rp10,7 miliar, Jembatan Aek Simpang di Ulupungkut Rp2,4 miliar.
Di luar Pantai Barat, Pemerintah Provinsi mengalokasikan untuk pemeliharaan rutin Rp5,3 miliar, penanganan jalan akibat bencana alam Rp1,9 miliar, dan perawatan jembatan Rp390 juta.
Dengan jumlah pagu Rp29 miliar, pembangunan jalan di Mandailing Natal pada Tahun 2016, tampaknya, merupakan kelanjutan dari Tahun 2015, yakni Jembatan Merah – Muarasoma Rp13,3 miliar, Simpang Pulo Padang (Batahan) – Batas Sumbar Rp6,9 miliar. Pembangunan jembatan Aek Batu Marsaong Rp1,7 miliar, jembatan Aek Ranto Sore Rp1,7 miliar, dan jembatan Aek Simpang Banyak di Ulupungkut Rp2,2 miliar.
Di luar Pantai Barat, anggaran untuk jalan dari Provinsi pada Tahun 2015 hanya penanganan akibat bencana alam Rp2,9 miliar.
Sama dengan Mandailing Natal, LPSE Provinsi, hingga akhir Maret, masih malu-malu memperlihatkan seluruh proyek yang ada di Sumatera Utara. Namun, biasanya, kalau tidak didorong pada APBN-P atau APBD-P Provinsi, kecil kemungkinan penambahan anggaran jalan untuk Madina.
“Jadi, kalau banyak jalan yang jelek tahun ini, kita harus paham saja. Terutama bagi perantau yang mau pulang Lebaran,” kata Rachmat Lubis.
Jakarta, 31 Maret 2016
Pengurus Pusat ARPM

Tidak ada komentar